Gerimis Februari*

Rinai-rinai Februari yang puisi
      
pexels.com/id-id/@aline-nadai-944439



Musim belakangan boleh jadi semakin tidak menentu,

Sebagaimana rindu yang tetiba menyita perasaanku;

Sejurus bayang-bayangmu datang melulu;

Percis, seperti hujan pada bulan Februari

 

Pada intensitas hujan belakangan,

Selain tentu menghujan segala dan lalu kebasahan;

Ia juga membuat genangan;

Pun, suatu kali juga kenangan;

Yang menumbuhkan kerinduan yang bermekaran

 

Tiada yang keliru dari suatu kerinduan;

Selagi tidak direspons dengan sesuatu yang dekat dengan kealpaan

Adalah doa-doa yang menjadi pilihan;

Yang barang kali dapat mengusap-usap hati yang penuh kerinduan;

Memintanya untuk lebih sabaran

 

Hujan, adalah waktu yang didapuk sebagai waktu mustajabnya doa-doa;

Sehingga adalah aku yang merasakan kerinduan ini,

Memilih menghujanimu:

Dengan doa-doa

Doa-doa,

Yang semoga hujan menjadi perantara;
Agar doa-doa menjadi kenyataan

 

 

*) puisi sedang dimoderasi, setelah diunggah di idntimes.com dari akun IDN Community penulis pada Selasa, 02 Februari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mudik yang Begitu Puisi*

Kotak Suara*

Menyelami Bapak Koperasi Indonesia dari Buku “Soekarno, Hatta, Syahrir Kisah dan Memoar Tiga Macan Asia di Tengah Hiruk Pikuk Perjuangan”